Oleh :
Muti
Pengertian ketertindasan kerapkali kita
ekuevalenkan dengan ketertindasan atas high clash terhadap under class. Akan
tetapi lebih konkrit dan fundamental—menurut hemat penulis—yakni ketertindasan
membiarkan ‘punggawa hidup’ sosok yang digambarkan sebagai punggawa hidup oleh
tokoh-tokoh pejuang yaitu wanita, selain daripada itu pula direpresentasikan
oleh beberapa aktivis misalnya Soe Hok Gie adalah sosok perempuan yang hidup
bersama cinta antara kekasih. Apa wujud korelasi kedua hal tersebut antara
wanita dengan ketertindasan. Sejauh ini realitas yang tergambarkan bahkan didiuraikan
dalam diskursus-diskursus bertalian antara masalah gender di mana wanita
hanyalah diposisikan sebagai seorang yang tidaklah mengambil peran signifikan
di dalam masyarakat. Adapun selain daripada itu, terkadang wanita tidaklah
memperoleh kebahagiaan dari lelaki. Kebahagiaan yang diberikan oleh lelaki
hanyalah berupa pemenuhan cinta fisik memberikan sewajarnya hal-hal materil.
Tanpa adanya pemaknaan subtansi kasih sayang. Secara romantisme bahasa yang
dikenal seperti ‘cinta hidup semati’. Lagi-lagi wanita atau perempuan sangatlah
membutuhkan kasih dan cinta yang otentik. Masihkah kita mempojokkan wanita di
antara kebahagiaan dan ketakbahagiaan.

Komentar
Posting Komentar